Siapa orang terkaya di
dunia? Sejumlah orang akan menjawab anggota dinasti paling tajir pada era
modern seperti Rothschild, Rockefeller, atau Carnegie.
Lainnya menyebut para miliarder terkini seperti Bill Gates, Carlos Slim, Warren
Buffet, Mark Zuckerberg, atau para sheik di Arab yang dikenal bergelimang
harta.
Namun, fakta membuktikan, orang terkaya di muka Bumi adalah Musa Keita I, Mansa
atau Kaisar Mali.
Mansa Musa I memimpin Kerajaan Mali di Afrika Barat
pada tahun 1307. Ia menghasilkan keuntungan dengan mengeksploitasi kekayaan
garam dan emas negaranya.
Pria yang lahir pada tahun 1280-an juga itu memperluas Kekaisaran Mali dengan
menaklukkan 24 kota dan daerah sekitarnya.
Berikut fakta mencengangkan soal Mansa Musa I:
1. Jumlah Kekayaan Berlimpah
Pada saat kematiannya pada tahun 1337, Mansa Musa mengumpulkan kekayaan yang
mungkin terlalu banyak untuk dibayangkan. Dengan menyesuaikan tingkat inflasi
saat ini, pundi-pundi hartanya bisa mencapai lebih dari US$ 400 miliar.
Dengan kurs US$ 1 sama dengan Rp 12.997, maka kekayaan sang sultan mencapai
5.198 triliun.
Ada di urutan kedua adalah total kekayaan keluarga Rothschild yang diperkirakan
USR 350 miliar.
Sementara, kekayaan J.D. Rockefeller diperkirakan bernilai US$ 340 miliar,
Andrew Carnegie US$ 310 miliar, Moammar Khadafi US$ 200 miliar, Bill Gates US$
136 miliar, dan Carlos Slim US$ 68 miliar.
Dengan kata lain tak ada satu orang pun saat ini yang bisa menyamai Mansa Musa
soal kekayaan.
"Tak ada cara untuk mengetahui jumlah kekayaannya yang akurat," kata Jacob Davidson dari Majalah Times, seperti dikutip dari situs Ancient Origins, Kamis (17/11/2016).
2. Jaya Saat Eropa Terpuruk
Kekaisaran Mali didirikan di bekas Kerajaan Ghana. Pada
puncaknya, di bawah kepemimpinan Musa I, wilayah kekuasaan imperium itu
membentang lebih dari 2.000 mil atau 3.218 kilometer di Afrika Barat, dari
Samudera Atlantik ke Timbuktu, termasuk wilayah yang sekarang menjadi negara
Chad, Pantai Gading, Gambia, Guiena, Guinea-Bissau, Mali, Mauritania, Niger,
Nigeria , dan Senegal.
Ilustrasi Mansa Musa I. (Independent)
Selain menggabungkan berbagai kota di bawah pemerintahannya, terutama Timbuktu
dan Gao, Mansa Musa juga mengumpulkan upeti dari wilayah kekuasaannya.
Tak hanya sekadar menghasilkan pundi-pundi harta dari
tambang emas dan garam.
Wilayah kekuasaan Kekaisaran Mali (Wikipedia)
Itu mengapa, ketika Eropa masih berjuang menghadapi kelaparan, wabah, dan
pertempuran tak kunjung henti para bangsawannya, kerajaan di Afrika itu
berkembang pesat.
3. Menggantikan Raja yang Hilang
Menurut tradisi Mali, raja akan menunjuk wakil setiap kali
ia menunaikan ibadah haji atau melakukan petualangan lain.
Jika penguasa tak kembali, maka wakilnya akan dinobatkan jadi raja.
Silsilah Kekaisaran Mali (Wikipedia)
Itu yang terjadi setelah Abubakari Keita II, pendahulu Musa
melakukan penjelajahan untuk menemukan ujung Samudra Atlantik. Setelah itu
nasibnya tak diketahui.
Sebelum menduduki singgasana pada 1312, Musa I mengirimkan 2.000 kapal untuk
mencari Abubakari Keita II. Ketika tak ada yang kembali, semua setuju bahwa ia
harus dinobatkan jadi raja.
4. Tak Hanya Mewariskan Harta
Musa I tak hanya mewariskan harta kekayaan. Dengan
mengendalikan rute perdagangan penting antara Laut Tengah (Mediterania) dai
perairan Afrika Barat, Mansa Musa menjadikan Timbuktu sebagai pusat budaya dan
pembelajaran Islam.
Ia membayar seorang arsitek dari Andalusia, dengan 200 kilogram emas, untuk
membangun Masjid Djinguereber yang hingga kini masih berdiri.
Mansa Musa juga mendirikan Universitas Timbuktu untuk menarik para akademisi
dan seniman dari Dunia Islam.
Pada masa kepemimpinannya, Mansa Musa I mendorong urbanisasi dengan mendanai
sekolah dan masjid.
5. Tak Sengaja Membunuh Ibu Sendiri
Mansa Musa I kali pertama menarik perhatian publik dunia
pada 1324, ketika ia menunaikan ibadah haji ke Mekah.
Dalam bukunya, 'Chronicle of the Seeker' yang terbit pada
1987, cendekiawan muslim Afrika, Mahmud Kati mengungkap kejadian yang
menginspirasi Mansa Musa berhaji. "Mali-koy Kankan Musa adalah sultan yang
lurus, saleh dan taat," tulis Kati.
saking berlimpahnya, hingga saat ini kekayaan Mansa Musa
belum dapat ditaksir dengan pasti jumlahnya.
Ia menambahkan, berdasarkan pengakuan cendekiawan, Muhammad Quma, Mansa Musa
secara tak sengaja menyebabkan kematian ibunya, Nana Kankan.
"Karenanya ia merasa sangat bersalah, menyesal, dan takut mendapat azab.
Ia membayar kafarat (denda) dalam jumlah besar dan berpuasa dalam waktu
lama," tulis Kati.
"Ia bertanya kepada seorang ulama, apa yang bisa dilakukannya untuk
menebus dosa besar itu. Ulama tersebut menjawab, "Anda harus mencari
perlindungan Nabi Allah."
6. Rombongan Mewah Saat Naik Haji
Untuk menebus dosa, Mansa Musa pergi berhaji, menempuh
perjalanan 4.000 mil menuju Mekah.
Iring-iringan sang sultan ke Tanah Suci bak parade yang menunjukan kemewahan,
sampai-sampai dianggap sebagai gangguan oleh orang Eropa.
"Ia sama sekali tak mengirit. Kafilah yang dibawa membentang sejauh mata
memandang," lapor Jessica Smith dalam TED-Ed.
Ilustrasi Mansa Musa menunggangi unta. (Catalan Atlas of
1375)
"Penulis sejarah mendeskripsikan rombongan yang terdiri atas puluhan
ribu tentara, warga sipil, dan para budak. Ada 500 bentara yang membawa tongkat
emas dan berpakaian sutra. Sejumlah unta dan kuda membawa emas batangan dalam
jumlah besar."
Mansa Musa juga membawa serta istrinya, Inari Konte dan 500 dayangnya. "Ia
membangun masjid di sepanjang perjalanan, di Dukurey, Gundam, Direy, Wanko, dan
Bako. Sebagian masjid masih berdiri hingga saat ini."
Butuh waktu lebih dari setahun untuk Mansa Musa I untuk menyelesaikan perjalanannya dan kembali pulang ke Mali.
Konon, saat mencapai Alexandria, ia menghabiskan banyak harta -- memberikan
bubuk emas pada orang miskin, membeli makanan untuk rombongan, dan membeli
banyak cinderamata untuk dibawa pulang. Konon, belanjanya itu menyebabkan
inflasi melonjak di kota itu yang baru pulih hingga bertahun-tahun.
Sumber : www.liputan6.com
Sumber : www.liputan6.com
