Orang yang pandai dalam berargumen, selalu belajar. Baik ia belajar dari kesalahannya sendiri, kesalahan orang lain, belajar dari buku-buku, dan banyak hal lainnya. Ada perbedaan antara orang yang pandai berargumen, dengan yang kepandaiannya dalam berargumen masih tertunda. Untuk itu, Kita Muda ingin membagi cara-cara orang pandai dalam berargumen, agar semua dapat mempelajarinya.
Pada intinya, berargumen ialah seni menyampaikan pendapat. Ada 2 hal yang meliputi argumen: cara menyampaikan, dan isi dari argumen. Andaikata cara menyampaikannya baik, namun isinya kurang padat, maka itu ibarat buku yang desain covernya bagus, namun isinya tak merepresentasikan cover. Bila yang terjadi sebaliknya, yakni isinya padat, namun penyampaiannya buruk, maka orang-orang akan malas mendengarkan. Sebaik apa pun isinya. Itu mengapa kombinasi antara isi yang baik dan cara menyampaikan yang cantik, harus bersatu padu.
1.Mengalah Bukan Berarti Kalah
Orang yang pandai berargumen sudah memiliki dasar yang kuat dalam dirinya. Sehingga, apa pun yang terjadi, sedikit pun tak akan menggoyahkannya. Termasuk, ketika berdebat dengan orang-orang yang berbeda pendapat dengannya. Saat ia merasa sudah ada perdebatan yang tak sehat, ia lebih memilih untuk mengalah saja. Karena baginya, mengalah bukan berarti kalah.
2.Selalu Tenang Dan Sabar Disaat Lawan Menyerang Apapun Respon Yang Lawan Berikan
Orang yang menguasai teknik berargumen dengan baik, akan memilih menghadapi orang-orang semacam itu dengan penghadapan yang sabar. Proses ini melibatkan kecerdasan emosional. Alih-alih memaksakan kehendak, ia lebih suka menghadapi para pemberontak dengan kesabaran dan ketenangan.
3.Saat Berargumen Selalu Didukung Dengan Fakta-Fakta Dan Bukti Yang Kuat
Orang yang pandai dalam berargumen, sangat hati-hati dalam berbicara. Setiap ucapan yang keluar dari mulutnya bukanlah angin-angin kosong belaka. Ia tak mau berbicara kalau tak ada dasar berupa fakta-fakta yang kuat. Baginya, kalau ingin berbicara namun tak padat fakta, maka sebaiknya diam.
4.Tutur Katanya Selalu Halus Dan Sopan
Poin ini berkaitan dengan cara menyampaikan pendapat. Sebagus dan sebenar apa pun pendapat yang ingin disampaikan, kalau cara menyampaikannya ketus dan tak menghargai lawan bicara, maka si lawan bicara akan segera memasang kuda-kuda untuk menolak kebenaran baru yang ingin kamu sampaikan. Maka, sampaikanlah dengan sopan. Sampaikanlah secara halus.
5.Diterima Atau Tidak Pendapatnya Dia Tidak Pernah Merasa BAPER Atau Berpikiran Macam-macam
Seseorang yang memiliki argumen kuat, saat mengemukakan pendapat, tak pernah memiliki maksud apa pun selain hanya menyampaikan pendapat sesuai dengan kebenaran yang ia yakini. Kalau pendapatnya diterima, dia tak akan membusungkan dada, dan tetap rendah hati. Kalau pendapatnya ditolak, sedikit pun tak ada rasa baper atau ingin marah. Apalagi sampai berpikir macam-macam seperti “wah, ada propaganda nih!” misalnya. Alih-alih berpikir yang tidak-tidak saat ditolak, ia lebih memilih untuk tetap meyakini pandangannya, sampai ia temukan kebenaran hakiki yang lebih baru.
6. Tidak Asal Bicara
Orang-orang yang pandai berargumen, sangat menghindari untuk nimbrung-nimbrung percakapan. Kalaupun ia sampai nimbrung, maka sifatnya cuma meluruskan apa yang menurutnya masih kurang tepat saja. Mungkin ia akan mengawalinya dengan:
“Mohon maaf, nih, ya. Bukan apa-apa. Bukan gimana-gimana. Tadi kok denger-denger lagi pada bahas bla… bla… bla… Kebetulan, proyek thesis saya juga membahas tentang hal tersebut. Untuk hal-hal yang sedang diperdebatkan ini, kemarin saya menemukan jawaban yang valid. Jadi sebetulnya bla… bla… bla…”
Nah, kalau nimbrung yang begitu kan, pihak yang merasa ditimbrungi akan legowo menerima masukan-masukan berharga dari si penimbrung tadi. Bukankah begitu, Kawan Muda?
7.Jika Berseberangan Maka Yang Diserang Pendapatnya Bukan Orangnya
Apabila terjadi sebuah perdebatan, lalu dalam perdebatan tersebut pihak yang kalah menyerang orangnya, maka dasar dari serangan tersebut ialah kebencian orang tersebut terhadap lawan debatnya. Namun jika yang diserang ialah pendapatnya, maka berarti si lawan debat menyayangi orangnya, dan sangat ingin meluruskan pendapat yang berdasarkan fakta, jelas-jelas bengkok.
